balik kanan, balik kiri, nengkurep, kaki di kepala- kepala dikaki juga udah. duhh.. apa deh ini namanya dari tadi gue merem melek mati dan ngidupin lampu kamar entah apa yang bikin gue jadi salah tingkah sendiri. perasaan didalem hati gue berkecamuk, ada rasa takut, seneng, bahagia, kagum, ada sebel nya juga.
11 mei 2013 (di tempat yang paling tinggi namun membuatmu tak dapat mengendalikan emosi dan hasrat yang berlomba untuk memuaskan segala rasa)
semua orang sibuk dalam gejolak nya masing-masing. semakin pagi semua penghuni club malam makin bersorak entah sadar atau tidak raga nya terus menggelayuti musik yang berdentum keras, tertawa, bergerak sesuka nya, memeluk lekuk tubuh pasangan nya bahkan disudut ruangan juga ada yang sibuk bercumbu mesra. mungkin alkohol yang terlalu banyak memang betul mempengaruhi kesadaran mereka untuk berpijak dibumi dalam keadaan melayang. indah memang, tapi aku yang hanya duduk entah sudah berapa batang nikotin yang dihisap gelas yang berkali-kali diisi minuman yang pasti membuat perut mu membuncit dan mual. tapi sepertinya aku lebih merasa mual disaat melihat wanita yang menggunakan pakaian miris kekurangan bahan yang memperlihatkan bentuk tubuh nya dan penuh dengan monte-monte yang menurutku lebih kepada mirip baju panggung nya inul daratista yaa.. walaupun ini versi paris hilton yaa tapi tetep aja ga se eklusif paris hilton yang biasa suka jemur badan di pulau pribadinya sendiri. yap, perempuan penjajal lelaki bernapsu tinggi sedang memeluk tengkuk pria yang akhir-akhir ini menyita waktu ku untuk sekedar mengingat bagaimana angkuh nya pria ini bahkan saat tersenyumpun angkuh nya masih terasa. tapi yang lebih membuat ku panas dan mual adalah pria yang memiliki rahang tegas ini membalas pelukan panas itu.
kutengguk lagi sisa minuman beralkohol tapi lebih mirip milkshake coklat, kopi, atau hmm~ sejenis coklat hangat tapi beralkohol. aku sudah jengah melihat adegan murahan ini, mata ku panas hatiku membara. entah dari mana asal keberanian itu datang yang menarik kaki ku melangkah menarik lengan pria kokoh yang sedang memeluk pinggul wanita yang sedang berusaha membangun libido hasrat nya. badan ini terasa berat badan nya terhuyung tubuhku menopang badan nya yang betul sudah pasrah mengikuti kemana alur tenanga nya akan terbang. bicara nya entah kemana arah, mata nya merah kini aku sudah memeluk pinggang nya kuat lengan nya terasa berat ditengkuk ku. yap! ternyata dino mabuk berat. ini sudah diluar kesadaran nya, aku memopong tubuh nya kekursi sebelum nya dino sudah memuntahkan semua isi didalam perut nya tepat disamping ku nyaris menyambar baju ku untung lah aku masih sigap untuk peka apa yang akan selanjutnya pria ini lakukan. dengan susah payah aku membawanya ke kursi membuka dua kancing paling atas kemeja nya, kuraba baju kaos yang basah keringat bercampur bekas muntah berbau masam dan yaa.. asala tahu saja dino berkali-kali muntah bahkan tak sadarkan diri terus melakukan hal gila yang membuatku kewalahan membantu nya sadar. "sadar dino kalo lo mabok yang model begini sumpah ini kampungan! what a jerk drunk! dino please!!" aku menghempaskan tubuhku di sofa membiarkan tubuh dino terkulai di pangkuanku. tapi ada yang berontak di sudut hatiku. aku merasakan seperti ada hasrat ingin terus berada dalam mabuk nya aldiano dwiputra.
hy readers.. ini cerita pertama gue semenjak.. hmm semenjak gue resmi sebulan jadi pengangguran yang hati nya lagi remuk redam hahaha! doain aja lancar pelan tapi pasti, dreams come true deh ya *lovestruck*
yok cinta-cintaan sama hatinya tita!
hy readers.. ini cerita pertama gue semenjak.. hmm semenjak gue resmi sebulan jadi pengangguran yang hati nya lagi remuk redam hahaha! doain aja lancar pelan tapi pasti, dreams come true deh ya *lovestruck*
yok cinta-cintaan sama hatinya tita!
<iframe width="202" height="25" src="http://embed.wattpad.com/follow/putrihanafiah/follow/putrihanafiah?type=2" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
tanpa nikotin, mungkin dengan kopi putih.
poohney.
tanpa nikotin, mungkin dengan kopi putih.
poohney.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar